Saturday, March 9, 2013

The Perspectives.


Inspirasional!
Harus gue akui, gue larut dalam alur cerita Atjeh Lon Sayang. Sebuah film yang memiliki perspektif berbeda tentang kehidupan masyarakat Aceh pasca Tsunami.
Awalnya, gue kira film ini bakalan nyeritain tentang bagaimana kesedihan dan cerita penuh air mata masyarakat Aceh setelah Tsunami yang terjadi 26 Desember 2006 lalu. Ternyata gue salah. Film ini bahkan menyuguhkan lebih dari yang gue bayangkan. Bukan seperti film dokumenter lainnya yang lebih mengangkat kesedihan dalam 1 perspektif, film ini punya gayanya sendiri.


Secara keseluruhan, film ini sangat membuka mata kita terhadap sudut pandang yang berbeda. Dimana kebanyakan film lebih menyoroti tentang kesedihan dan menuntut iba dari penonton, film ini justru membuat kita sadar terhadap yang sebenarnya terjadi. Sisi negatif yang perlu dikoreksi serta introspeksi sebagai penonton membuat gue lebih menikmati isi film dengan penuh kepedulian, gak cuma kata 'sedih' dan 'iba'. I must admit that common documentaries film just exploit the sadness of the subject. I don't like that because it's not the way to communicate with the audiences and give them the premise correctly. Sometimes you need to show the negative side and enlighten the audiences.



Ada 2 sudut pandang yang bisa gue dapet dari film ini. Yang pertama adalah sudut pandang dari seorang anak kecil yang menjadi korban tsunami. Munawar namanya. Salah satu anak dari sekian banyak korban tsunami yang terpisah dari orang tuanya. 


Bisa kita lihat dari wajahnya tersirat sebuah kesedihan dan kerinduan yang mungkin hanya bisa dimaknai secara non verbal. Gue gak pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang tua, tapi gue bisa bayangkan bagaimana hal itu menyelimuti pikiran Munawar. Di sudut pandang ini, kita akan diajak untuk menjadi Munawar. Menjadi dia yang menikmati hidup dalam kehidupan yang baru. Kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupannya sebelum Tsunami. Ditambah lagi dengan kegiatan sehari2 Munawar dan 150 anak lainnya di panti, tentu saja akan memperdalam daya emosional kita terhadap korban tsunami seperti Munawar.


Sudut pandang kedua adalah dari seniman, pemerhati dan juga aktivis kebudayan Aceh, yaitu Tengku Reza Idria. 

Tengku Reza Idria lebih mengungkap bagaimana efek Tsunami terhadap masyarakat Aceh. Dia tidak menceritakan bagaimana kerusakan itu merugikan masyarakat Aceh. Namu Reza lebih memberikan pandangan bahwa Tsunami masih gagal dalam tujuannya sebagai pemersatu rakyat Aceh. Setelah 2 bulan pasca Tsunami, Reza merasa bahwa rakyat Aceh tetap saja belum memiliki solidaritas terhadap sesama korban, karena luas tempat yang menerima kerusakan dari Tsunami itu belum seberapa dari total luas Aceh.
Reza juga mengungkapkan bahwa mungkin slogan dan simbol keislaman di Aceh hanya menjadi kepentingan suatu kelompok, bukan sifat dari keseluruhan rakyat Aceh.


Pernyataan2 Reza pada akhirnya memberi tandingan terhadap rasa iba yang sudah kita terima setelah menjadi sosok Munawar di sudut pandang sebelumnya. Penonton seperti gue mungkin akan lebih mudah menerima pesan dari sebuah premis jika sudah membandingkan 2 sudut pandang yang jelas.
I like the way this film combining the 2 perspectives.

Obvious!


Baru aja tadi di kantin, gue mengamati orang yang tampangnya brewokan kayak orang India. Sekilas sih gak menarik untuk diperhatiin, soalnya gue udah kenal dari awal.  Tapi karena dia lebih berbulu dari yang lain, jadinya cuma dia yang mencolok di mata gue. You may know him. He is the forever ‘Ketua Kelas’.

Namanya Sandi, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi di kampus gue ini. Secara fisik, Sandi itu kulitnya sawo matang, ya gak matang2 amat sih tapi cukup untuk dibilang item. Badannya gak gemuk dan tingginya sekitar 170 cm, bisalah untuk jadi model iklan boneeto. Baju yang dipakai Sandi bermotif kotak-kotak, layaknya mahasiswa biasa. Dengan skinny jeans dan sepatu conversenya, keliatan banget kalo Sandi ini mahasiswa dengan gaya standard. Kenapa gue bilang standard? soalnya mukanya standard.

Alasan gue memilih Sandi untuk menjadi subjek pengamatan gue adalah, karena cuma Sandi yang mudah diamati dibandingkan mahasiswa yang ada di kantin lainnya. Soalnya Sandi gak make seragam kampus. Kenapa gue gak milih untuk memperhatikan cewek? Sebenernya sih ada cewek yang bagus untuk diperhatiin. Tapi rambutnya udah kayak anak komplek yang sering main layangan, trus gue juga gak tau nama dia siapa.

Banyak hal yang bisa dilihat dari penampilan Sandi. Salah satunya adalah kemejanya yang berbeda dari mahasiswa lainnya. Hari ini adalah hari senin, dan itu artinya semua mahasiswa diwajibkan untuk menggunakan seragam kampus. Menurut gue itu hal yang menarik untuk ditiru, soalnya kalo make seragam kampus kita gak akan terlihat berbeda, alias ‘sama’. Meskipun kalo berbeda resikonya dimarahin kampus, tapi gue lebih suka memakai seragam yang bukan lagi out of the box, tapi without the box. Haha. 

Saturday, March 2, 2013

Loyalty, Love and Dance.


Kali ini gue akan ngebahas sosok penari yang berasal dari Indramayu. Eh tapi ada yang tau Indramayu gak? Ituloh Indra ama Ayu.
Namanya Mimi Rasinah. Mimi Rasinah itu adalah seorang penari topeng yang berasal dari Indramayu, Jawa Barat (iye tadi udah dibilangin). Tarian yang dimaksud di sini adalah Tarian Pamindo dan Tarian Panji. I don't know for sure whether those dance are originally comes from Indramayu or not. Tapi gue rasa Pamindo dan Galendo itu satu bapak beda planet. Galendo itu makanan khas Ciamis yang kelezatannya melebihi zat psikotropika.
Darah seorang penari udah mengalir pada diri Mimi Rasinah dari kedua orang tuanya. Orang tua Mimi Rasinah bahkan udah ngajarin seni tari ke dia dari umur 5 tahun loh. Kita yang umur 5 tahun masih main power rangers, Mimi Rasinah udah mulai belajar nari. Kelihatan ya, kalo orang2 zaman dulu itu effort dalam segala hal selalu lebih besar dibandingkan orang2 zaman sekarang. Tapi keliatan juga kok kalo kita mau jadi power rangers.
If we want to be success, we are really need an absolutely big effort. So does become a dancer. Yap bener, menjadi seorang penari topeng itu bukan hal yang mudah. Untuk itu, Mimi Rasinah bahkan harus puasa 40 hari dan melakukan banyak ritual untuk mengecilkan perutnya. Ada banyak ritual yang harus dilewatin ketika Mimi Rasinah ingin menunjukkan totalitasnya, salah satu diantaranya adalah makan cabe. Gue masih bingung kenapa harus makan cabe, kalo malah usus buntu kan bahaya. Ya meskipun begitu berat dan aneh, namun Mimi Rasinah tetap berusaha melakukannya.
Mimi Rasinah
Ketika masih kecil, Mimi Rasinah udah diajak 'ngamen' di beberapa tempat hingga pada akhirnya menjadi penari professional yang telah pentas hingga luar negeri. Mengagumkan, bukan? Bahkan Mimi Rasinah ingin jikalau suatu saat nanti dia meninggal, dia meninggal di atas panggung.
Kesetiaan Mimi Rasinah terhadap seni tari adalah sebuah hal yang menarik untuk dipelajari. Sebuah tantangan dalam melestarikan budaya di tengah zaman modern ini. Dunia, Tarian Pamindo dan Tarian Panji adalah saksi atas kesetiaan dan kecintaan Mimi Rasinah dalam dunia seni.
Big proud of you, and thanks for the loyalty, love and dance.


Kalo ngebahas teknis dan pengambilan gambar, dari sudut pandang pengambilan gambar bisa dilihat kalau film ini ingin menunjukkan sosok Mimi Rasinah secara lengkap. Tak memiliki batas dalam perspektif dan sangat luas dalam visualisasi. Tarian yang ditampilkan sesuai dengan alur cerita. Alur yang dipakai juga unik yaitu alur 3 tahap.




Backsound musik tarian yang dijadikan backsound film juga memiliki makna implisit bahwa film ini sangat menggambarkan Mimi Rasinah sebagai seorang penari. Sangat jelas untuk dimaknai karena membawa penonton larut dalam konsep tarian dalam sosok wanita tua.

Wednesday, February 20, 2013

Biography

JRX SID tanpa tatto
Nama gue Mustafa.
05/03/1994

Gue lahir dan dibesarkan di Samarinda, kota yang sering disebut kota Tepian. Mungkin kalian kurang familiar dengan kota Samarinda, at least kalian pernah baca tulisan "Samarinda" di sarung2 kan? Dimana banyak kota lain memiliki trademark unik seperti kota pelajar, kota kembang, dan kota metropolitan, kota tempat gue dibesarkan malah terkenal sebagai kota sarung. Sarung, Sarung everywhere.
Sebenernya gue ini keturunan Jawa, soalnya kedua orang tua gue lahir dan dibesarkan di Grobogan, Jawa Tengah. Tapi akhirnya mereka memutuskan untuk merantau di Samarinda, yang waktu itu lagi mainstream banget untuk dijadikan tempat merantau. Dan jadilah gue, anak yang bingung akan orientasi tempat asalnya ketika ditanya 'Kamu asalnya dari mana?', salah ketika gue menjawab gue adalah orang Samarinda, dan salah juga kalo gue jawab gue adalah orang Jawa karena gue sama sekali gak bisa ngomong Jawa. Indonesia memang ribet dalam urusan ini.
Gue cukup lama tinggal di Samarinda, bahkan lebih dari setengah hidup gue. Gue sekolah hingga SMP di sana, lalu ketika SMA gue ngekos di Banjarbaru untuk melanjutkan sekolah. Dimulailah masa remaja gue di provinsi berbeda.

Sebelum gue lulus SMP, gue mengikuti beberapa tes PMDK untuk masuk ke SMA favorit. Gue ikut tes sana sini, dari yang cuma pake nilai raport hingga tes tertulis yang soal matematikanya pake bahasa Inggris! Gila gak tuh.
Gue terpaksa harus ikut tes2 kayak gitu agar ketika gue lulus, gue gak bingung lagi harus sekolah dimana. Perjuangan gue gak sia-sia, gue lulus di 2 sekolah yaitu SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru dan SMA 1 Negeri Samarinda. Namun masalah belum selesai, dilema malah datang bertubi2.
Gue gak pernah membayangkan untuk diterima di 2 sekolah sebelum gue lulus SMP. Sebuah kebanggaan buat gue juga karena SMA 1 Negeri Samarinda saat itu menjadi sasaran utama semua murid SMP yang ada di Samarinda, alias favorit banget. Gue bahkan lulus dengan Tes PMDK. (Sombong banget lau, mus)
Gue yang saat itu terlena dengan kelulusan di sekolah favorit pada akhirnya harus dihadapkan dengan "opini" orang tua yang berbeda. Orang tua gue menyarankan gue untuk lanjut sekolah ke SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru. Mereka beralasan bahwa sekolah menengah kejuruan memiliki banyak kelebihan dibandingkan sekolah menengah atas biasa. Gue gak ngerti maksud mereka saat itu. Yang ada di otak gue, sekolah menengah kejuruan itu kayak sekolah militer yang harus push-up 100 kali tiap pagi dan rambutnya kotak2 kayak pilot. Gak banget.
Dilema datang semakin kejam tiap detiknya. Dan gue pun pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti kehendak orang tua dan mengesampinkan ego. Gue hanya berpikir positif dan positif, karena mengikuti saran orang tua adalah yang terbaik, meskipun pada saat itu gue belum menemukan buktinya. Satu dilema lain ketika itu adalah, gue harus meninggalkan temen2 gue dan kota Samarinda selama 3 tahun. Udah kayak Naruto latihan ama Jiraiya ninggalin desa Konoha.
With Any, Tere, and Anis.

Hiduplah gue di Banjarbaru.
Sekolah di kota kecil yang bersih tanpa ada sebuah Mall pun yang berdiri.
Kalimantan Selatan memang lucu. Dulu pas gue sekolah di sana, hanya ada satu Mall di Kalimantan Selatan. Garis bawahi, hanya ada satu Mall di Kalimantan Selatan. Satu2nya mall yang ada di sana adalah Delta Mall, dan itu pun di Banjarmasin. Butuh sekitar satu jam dari kosan gue untuk bisa sampai di Delta Mall. Bayangkan, satu provinsi hanya terdapat satu buah Mall. Jadinya, seluruh masyarakat yang ingin ke mall hanya bisa ke satu mall, yaitu Delta Mall, the one and only Mall. Satu hal lain yang unik dari Kalimantan Selatan adalah... gak ada McDonald.
Kalo kalian mau order via 14045, itu artinya kalian harus nunggu orderan dikirim dari provinsi lain. Dan itu mustahil.

SMK Telkom memang terkenal sebagai sekolah perantauan. Banyak murid yang berasal dari luar kota hanya demi sekolah di sana. Dan seperti biasa, pertanyaan membingungkan "itu" pun selalu muncul ketika awal masuk sekolah

'Kamu asalnya dari mana?'

Di SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, gue mengambil jurusan Network Access. Jurusan yang cuma ada di 5 sekolah di Indonesia. Jurusan ini memang spesial, gue diajarin menjadi teknisi perkabelan yang bisa merancang jaringan komunikasi bawah tanah ataupun atas tanah. Gue bangga dengan jurusan gue ini, meskipun sekarang gue udah banyak lupa soal perkabelan hehe.
Karena ketika SMK adalah masa remaja, tentu di tempat ini gue dapet banyak pengalaman yang bakal gue inget seumur hidup. Terutama ketika magang. Skip that one.

Menyempatkan foto saat praktek






























Sebelum lulus dari SKATEL (panggilan untuk SMK Telkom Sandhy Putra Banjarbaru, yang menurut gue aneh banget) gue memutuskan untuk ikut SMBB Telkom agar bisa melanjutkan sekolah ke IMT Bandung.
Sejak kelas 3 SMK, gue sudah membulatkan tekad untuk mengambil jurusan Ilmu Komunikasi terutama yang berkonsentrasi Broadcasting. Mungkin orang tua gue bingung dengan pilihan gue ini karena berlawanan dengan jurusan gue di SMK. Tapi gue udah jelasin kalo gue mau jadi sutradara atau mungkin kerja di stasiun televisi di masa depan nanti. Gue udah dewasa, dan akhirnya orang tua menyetujui hal ini tanpa "opini" sedikitpun. Passion gue gak merugikan siapapun, so it was easy.
Kenapa gue milih IMT? Karena pada saat itu yang menjadi target gue ada 2, yaitu Unpad dan IMT. Gue sadar Realistis dan Optimis itu beda. Dan akhirnya gue memutuskan untuk gak ikut SNMPTN karena: realistis aja kayak sperma berebutan ovum :))

Pengukuhan Kelulusan



























Gue pun kuliah di IMT.
Gue yakin kuliah dimana saja itu menyenangkan termasuk di IMT, asalkan kuliah dengan passion bukan tuntutan orang tua. Gue kuliah dengan semangat masa depan. Iya, karena gue punya mimpi yang besar di sana dengan biaya kuliah yang tentu gak murah. Terlalu menyedihkan kalo kuliah males2an tapi mau masa depan bersinar. I'm not that pathetic.

Tom Delonge
Sekarang gue sudah hinggap di semester 4. Semester yang makin memusatkan konsentrasi gue terhadap Broadcasting. Fun, of course. Nilai IP juga gak mengecewakan banget kecuali nilai Ekonomi. To who the fuck has given that subject into this major, I do hate you.
Gue gak harus menceritakan kehidupan gue selama Bandung, soalnya gue belum selesai sekolah di sini.
Tapi ada satu hal yang perlu diingatkan lagi ketika gue dulu disarankan orang tua untuk sekolah di SKATEL.
Akhirnya gue bisa bangga dan menemukan sisi positif dari SMK, karena pada umumnya dosen2 akan bertanya ke mahasiswanya seperti ini:

'Dulu SMAnya IPA atau IPS?'
'Saya SMK pak, jurusannya Network Access'

Lebih terdengar keren dan gak mainstream tentunya ketika gue bilang itu ketimbang 'IPA pak' atau 'IPS pak'
Gue juga bisa bangga dengan magang gue. hahaha *tepokdada

Ada beberapa hal yang bisa dibanggain pastinya akan dibarengi juga dengan kebingungan.

Meskipun sekarang gue udah semester 4, tetep masih ada yang mengajukan pertanyaan pendek nan kampret 'itu' ke gue

'Kamu asalnya dari mana?'

Gue semakin bingung ngejawabnya karena gue akan menambahkan satu lokasi baru, yaitu Banjarbaru.
Gue ini sebenernya dari mana sih!?