Inspirasional!
Harus gue akui, gue larut dalam alur cerita Atjeh Lon Sayang. Sebuah film yang memiliki perspektif berbeda tentang kehidupan masyarakat Aceh pasca Tsunami.
Awalnya, gue kira film ini bakalan nyeritain tentang bagaimana kesedihan dan cerita penuh air mata masyarakat Aceh setelah Tsunami yang terjadi 26 Desember 2006 lalu. Ternyata gue salah. Film ini bahkan menyuguhkan lebih dari yang gue bayangkan. Bukan seperti film dokumenter lainnya yang lebih mengangkat kesedihan dalam 1 perspektif, film ini punya gayanya sendiri.
Secara keseluruhan, film ini sangat membuka mata kita terhadap sudut pandang yang berbeda. Dimana kebanyakan film lebih menyoroti tentang kesedihan dan menuntut iba dari penonton, film ini justru membuat kita sadar terhadap yang sebenarnya terjadi. Sisi negatif yang perlu dikoreksi serta introspeksi sebagai penonton membuat gue lebih menikmati isi film dengan penuh kepedulian, gak cuma kata 'sedih' dan 'iba'. I must admit that common documentaries film just exploit the sadness of the subject. I don't like that because it's not the way to communicate with the audiences and give them the premise correctly. Sometimes you need to show the negative side and enlighten the audiences.
Ada 2 sudut pandang yang bisa gue dapet dari film ini. Yang pertama adalah sudut pandang dari seorang anak kecil yang menjadi korban tsunami. Munawar namanya. Salah satu anak dari sekian banyak korban tsunami yang terpisah dari orang tuanya.
Sudut pandang kedua adalah dari seniman, pemerhati dan juga aktivis kebudayan Aceh, yaitu Tengku Reza Idria.
Tengku Reza Idria lebih mengungkap bagaimana efek Tsunami terhadap masyarakat Aceh. Dia tidak menceritakan bagaimana kerusakan itu merugikan masyarakat Aceh. Namu Reza lebih memberikan pandangan bahwa Tsunami masih gagal dalam tujuannya sebagai pemersatu rakyat Aceh. Setelah 2 bulan pasca Tsunami, Reza merasa bahwa rakyat Aceh tetap saja belum memiliki solidaritas terhadap sesama korban, karena luas tempat yang menerima kerusakan dari Tsunami itu belum seberapa dari total luas Aceh.
Reza juga mengungkapkan bahwa mungkin slogan dan simbol keislaman di Aceh hanya menjadi kepentingan suatu kelompok, bukan sifat dari keseluruhan rakyat Aceh.
Pernyataan2 Reza pada akhirnya memberi tandingan terhadap rasa iba yang sudah kita terima setelah menjadi sosok Munawar di sudut pandang sebelumnya. Penonton seperti gue mungkin akan lebih mudah menerima pesan dari sebuah premis jika sudah membandingkan 2 sudut pandang yang jelas.
I like the way this film combining the 2 perspectives.
No comments:
Post a Comment