Friday, March 15, 2013

Analogi Rumput

'Konsep Wayang Suket adalah penyutradaraannya lebih menstimulus setiap pemain untuk memunculkan gagasan-gagasan, gaya hidup, dst. Di ruang yang kita sebut 'Ruang Kelaparan'.

Suket itu rumput. Iya, secara harfiah suket memang rumput.
Tapi apasih yang bisa kita ambil dari suket?
Suket bisa jadi simbol kesederhanaan. Berkacalah pada rumput yang selalu menunduk kapan saja.

Awalnya gue kira film Suket ini adalah film tentang sejarah rumput atau video biologi yang menjelaskan bagaimana rumput berfotosintesis. Ternyata film ini adalah film tentang Wayang Suket. The question is, why wayang has so much of 'species'? haha Why didn't Para Wali combine those species.

Secara singkat sih, film ini menggambarkan bagaimana hidup seorang Dalang yang bertubuh besar dengan analogi Suket. Gue bisa ngerti kenapa Dalang yang diangkat adalah dalang yang unik. Karena pada dasarnya harus ada karakter yang unik juga dalam film yang bagus.
Analogi yang digambarkan adalah kehidupan Dalang sejak dia masih kecil. Sejak dia memulai mengerti apa itu Wayang Suket hingga dia mengabdikan hidupnya untuk Wayang Suket. Karakter utama yang sederhana dan selalu berusaha membuat penonton lebih menyerap pesan karena secara tidak langsung pesan itu ada dalam diri seorang Dalang. Film ini juga menggambarkan betapa besar dedikasi seorang Dalang dalam melestarikan sebuah budaya bukan hanya dari unsur turun temurun, tapi unsur kebaikan dari Wayang Suket itu sendiri. Sangat banyak pesan yang bisa diambil dari sebuah suket. Buang dulu jauh-jauh makna harfiah dari rumput. Lihat lebih luas bahwa rumput akan bisa tumbuh di mana saja asal.
Quite enough to makes me proud.

Oh, technically this film was filmed by a really good videography.  Did you notice that the cameramen used the escalator? haha
Noted as a new trick for me.

No comments:

Post a Comment